Penayangan bulan ini

Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan

12/05/12

AKIBAT DARI PESTISIDA DAN PUPUK KIMIA

-->Untuk pertumbuhan yang optimal, tanaman memerlukan hara atau zat makanan yang memadai di dalam tanah. Secara alami hara tersebut terpenuhi dari serasah dedaunan dan bermacam organisme lain yang mengalami proses penguraian yang akhirnya menjadi makanan bagi tanaman. Namun, untuk memacu pertumbuhannya, tanaman perlu diberi zat makanan yang kemudian dikenal sebagai pupuk. Pada awalnya pupuk yang digunakan untuk memacu pertumbuhan tanaman yang dibudidayakan cukup dengan pupuk kandang dan kompos. Namun, karena pupuk kandang dan kompos dinilai kurang memuaskan akhirnya digunakan pupuk buatan (pupuk kimia) yang mengandung hara lengkap, baik makro maupun mikro. Pupuk kimia tersebut memiliki kemampuan ajaib untuk memacu pertumbuhan tanaman. Dibalik kemampuaannya tersebut, ternyata, penggunaan pupuk kimia yang berkelanjutan, belakangan diketahui mempunyai efek yang merusak tanah. Struktur tanah yang secara alami remah (gembur), setelah mendapat perlakuan dengan pupuk kimia secara simultan dan terus-menerus akhirnya menjadi bantat (sangat keras). Disisi lain yang menjadi masalah besar yang dihadapi para petani adalah serangan hama yang dapat menghancurkan tanaman. Dalam pertanian tradisional, masalah hama yang dihadapi petani tersebut tidaklah terlalu dipusingkan karena petani tidak merasa dirugikan. Seiring dengan berjalannya waktu, lambat-laun masalah hama ini menjadi perhatian utama. Munculnya masalah ini diakibatkan oleh adanya intensifikasi pertanian yang memusatkan perhatian pada satu jenis tanaman di areal yang sangat luas. Sistem pertanian seperti ini ternyata menimbulkan keadaan eksplosif dengan bertambahnya populasi jenis serangga tertentu. Pertanian dengan satu jenis tanaman sangat tidak menguntungkan ditinjau dari prinsip keseimbangan alami. Padahal, alam memperkenalkan banyak varietas dalam bentang tanah yang ditanami. Namun, manusia mengubah tatanan tersebut hanya untuk kemudahan dan keuntungan semata. Dengan adanya perubahan tatanan ini menyebabkan keseimbangan alam yang mengendalikan spesies- spesies di dalamnya menjadi rusak. Serangga yang hidup dari padi, misalnya, dapat membangun populasinya di lahan khusus padi saja dibanding di lahan padi yang bercampur tanaman lain yang tidak cocok baginya. Populasi serangga yang semakin meningkat tersebut menyebabkan serangannya pada tanaman meningkat pula sehingga hal tersebut menjadi hama bagi padi. Untuk menghadapi masalah tersebut petani mengembangkan suatu bahan untuk mengendalikannya, yaitu pestisida. Mula-mula pestisida yang digunakan petani berasal dari bahan alami, yaitu dari daun tembakau. Daun ini direndam dalam air dan kemudian disemprotkan ke tanaman yang terserang. Saat itu tampaknya pestisida tersebut cukup efektif. Namun, akhirnya manusia tidak puas dengan pestisida sederhan tersebut. Mereka secara terus-menerus berusaha untuk menemukan pestisida yang lebih ampuh. Usaha mereka berhasil dengan ditemukannya, pertama kali, senyawa kimia Dichloro Diphenil Trichlorothane (DDT) pada tahun 1875 di Jerman. Tak terhitung sudah jumlah pestisida yang sudah digunakan, dari berbagai jenis dan merek, dari mula ditemukan sampai saat ini, oleh petani untuk menanggulangi serangan hama tanaman yang menjadi musuhnya. Keberadaan pestisida kimia ini dianggapnya sebagai dewa penolong disaat petani kewalahan menghadapi serangga merugikan tersebut. Sungguh di luar dugaan bahwa manusia sudah melakukan kecerobohan luar biasa berkenaan dengan penggunaan pestisida kimia ini. Usaha membasmi spesies serangga hama tanaman yang tidak dikehendaki, akhirnya justru mengakibatkan seluruh lingkungan tercemar sehingga membawa ancaman penyakit dan kematian bagi manusia itu sendiri. Aktivitas berjenis-jenis makhluk hidup di dalam tanah, mulai dari jasad renik sampai cacing tanah, secara alami menjadikan tanah subur sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Makhluk hidup tersebut berjasa menguraikan serasah dedaunan menjadi tanah yang kaya bahan organik dan membuat struktur tanah menjadi remah. Selain itu, mereka pun sangat berperan dalam proses nitrifikasi, yaitu membuat nitrogen di udara tersedia bagi tanaman. Namun, setelah tanah tercemar pestisida kimia, aktivitas makhluk hidup di dalam tanah menjadi tergangu karena resedu pestisida ini lama bertahan dalam tanah. Bukan hanya hitungan bulan, tetapi dalam hitungan tahun. Pestisida berbahan aktif Benzene Hexachloride (BHC), misalnya, terdeteksi selama 11 tahun menjadi penghuni tanah. Itulah yang memperparah kondisi tanah yang semula remah dan kaya unsur organik menjadi sangat keras dan miskin akan unsur hara.
Sumber: bertanimandiri.blogspot.com

11/03/12

MEMBUAT PUPUK ORGANIK DENGAN BERMACAM-MACAM BAHAN

Harga pupung kian hari kian melonjak. Hal ini membuat bingung petani. Apa lagi bagi petani menengah ke bawah. Dengan penghasilan kecil tapi harus membeli pupuk yang harganya selangit. Oleh karena itu saya mencoba menulis postingan ini. Mudah2n bisa membantu petani untuk menghemat biaya perawatan. Pupuk cair: alat dan bahan 1 liter bakteri 5 kg hijau-hijauan/daun-daun segar (bukan sisa dan jangan menggunakan daun dari pohon yang bergetah berbahaya seperti karet, pinus, damar, nimba, dan yang sulit lapuk seperti jato, bambu, dan lain-lainnya) 0,5 kg terasi dicairkan dengan air secukupnya 1 kg gula pasir/merah/tetes tebu (pilih salah satu) dan dicairkan dengan air 30 kg kotoran hewan Air secukupnya Ember/gentong/drum yang dapat ditutup rapat Cara Pembuatan: Kotoran hewan dan daun-daun hijau dimasukkan ke dalam ember. Cairan gula dan terasi dimasukkan ke dalam ember. Larutkan bakteri ke dalam air dan dimasukkan ke dalam drum, kemudian ditutup rapat. Setelah 8-10 hari, pembiakan bakteri sudah selesai dan drum sudah dapat dibuka. Saring dan masukkan ke dalam wadah yang bersih (botol) untuk disimpan/ digunakan. Ampas sisa saringan masih mengandung bakteri, sisakan sekitar 1 sampai 2 liter, tambahkan air, terasi, dan gula dengan perbandingan yang sama. Setelah 8-10 hari kemudian bakteri sudah berkembang biak lagi dan siap digunakan Cara membuat Pupuk Organik dari kotoran ternak / kotoran manusia Bahan : 1. Kotoran Ternak / manusia 300 kg. 2. Dedak 10 kg. 3. Sekam 200 kg. 4. Gula ( 10 sendok makan ). 5. BIOTAMA 3 300 - 500 ml (30 – 50 tutup botol), tergantung bau kotoran. 6. Air secukupnya . Cara Pembuatan : 1. Larutkan BIOTAMA 3 dan gula ke dalam air dalam timba berisi air ± 7 liter (bisa ditambah dan dikurangi sesuaikan kondisi kelembaban kotoran ternak) 2. Kotoran Ternak, sekam dan dedak dicampur secara merata. 3. Disiram larutan BIOTAMA 3 secara berlahan-lahan ke dalam adonan secara merata, sampai kandungan air adonan mencapai 30%. Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan, bila kepalan dilepas, maka adonan akan mekar. 4. Adonan digundukkan di atas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung goni, selama 3-4 hari. 5. Pertahankan suhu gundukkan adonan 40-500 C. jika suhu lebih dari 500C, bukalah karung penutup dan gundukkan adonan dibalik- balik, kemudian ditutup lagi dengan karung goni. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan Pupuk Organik menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan. Pengecekan suhu dilakukan setiap 5 jam. 6. Setelah 2 atau 3 minggu saat suhu sudah stabil dan warna pupuk organik menjadi lebih gelap (coklat tua ataupun hitam) itu pertanda telah terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik. . Cara Membuat Pupuk Organik dari sampah organik secara cepat Bahan : 1. Jerami kering/daun-daun kering/ sekam/serbuk gergaji atau bahan apa saja yang dapat difermentasi 200 kg. 2. Pupuk Organik yang sudah jadi 20 kg. 3. Dedak 20 kg. 4. Gula pasir (5 sendok makan). 5. BIOTAMA 3 200 ml (20 tutup botol). 6. Air secukupnya. . Cara Pembuatan : 1. Larutkan BIOTAMA 3 dan gula ke dalam air. 2. Jerami kering (atau bahan apa saja yang dapat difermentasi), potong kecil kecil, kemudian dicampur dengan Pupuk Organik yang sudah jadi dan dedak secara merata. 3. Siram larutan BIOTAMA 3 secara perlahan-lahan ke dalam adonan secara merata, sampai kandungan air adonan mencapai 30%. Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan, dan bila kepalan dilepas, maka adonan akan megar. 4. Adonan dicetak diatas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung/terpal , selama 3-4 hari. 5. Pertahankan suhu gundukkan adonan 40-500C. jika suhu lebih dari 500C, bukalah karung penutup dan adonan dibalik-balik, kemudian tutup lagi dengan karung goni. Suhu yang tinggi mengakibatkan Pupuk Organik menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan. Pengecekan suhu dilakukan setiap pagi dan sore. 6. Setelah 5 – 7 hari Pupuk Organik telah selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik. . Cara membuat Pupuk Organik dari Jerami Padi Bahan : 1. Jerami 200 kg termasuk berbagai sampah pekarangan, daun daun, rumput dll dipotong 1 – 5 cm (lebih kecil akan lebih bagus) 2. Dedak 10 kg. 3. Sekam 200 kg. 4. Gula pasir 10 sendok makan. 5. BIOTAMA 3, 200 ml (20 tutup botol). 6. Air secukupnya . . Cara Pembuatan : 1. Tuangkan BIOTAMA 3 ke dalam timba berisi air ± 7 liter, tambahkan gula pasir. Air bisa ditambah ataupun dikurangi sesuai dengan kelembaban dari jerami/dedaunan sebagai bahan pupuk organik. 2. Jerami, sekam dan dedak dicampur secara merata. 3. Siramkan larutan BIOTAMA 3 secara perlahan lahan ke dalam adonan secara merata sampai Kadar Air 30% (yaitu saat adonan mudah dikepal dengan tangan namun kepalan mudah hancur saat digulingkan). 4. Adonan ditumpuk/dicetak di atas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm , kemudian ditutup dengan karung goni atau terpal, selama 2-3 hari. 5. Pertahankan suhu tumpukan jerami 40-500 C. Jika suhu lebih dari 500 C, bukalah karung goni atau terpal penutup dan gundukan adonan dibolak balik, kemudian ditutup lagi. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan Pupuk Organik menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan. Pengecekan suhu dilakukan setiap pagi dan sore. 6. Setelah jerami berwarna hitam kecoklatan dan lebih hancur ukurannya, maka Pupuk Organik telah siap digunakan.

PESTISIDA ALAMI

Sering kali para petani dipusingkan oleh pengganggu tanaman mereka. Mereka tentu pusing mengatasinya. Mereka cenderung memakai cara cepat untuk mengatasi pengganggu seperti hama,yaitu dengan penggunaan pestisida buatan. Tentu hal ini akan berdampak buruk pada lingkungan, apa lagi jika penggunaannya terlalu berlebihan. Untuk mengatasi hal tersebut saya coba berselancar di google. Saya akhirnya mendapatkan postingan yang bisa berguna untuk para petani. Yakni cara pembuatan pestisida alami. Pestisida alami dari ekstrak daun pepaya memiliki beberapa manfaat, antara lain: dapat digunakan untuk mencegah hama seperti aphid, rayap, hama kecil, dan ulat bulu serta berbagai jenis serangga. Langkah dan Cara Pembuatan Pestisida Alami dari Daun Pepaya (Carica papaya) adalaha sebagai berikut: 1. Kumpulkan kurang lebih 1 kg daun pepaya (sekitar 1 tas plastik besar/ 1 ember besar). 2. Menumbuk daun pepaya hingga halus. 3. Hasil tumbukan/rajangan direndam di dalam dalam 10 liter air kemudian ditambahkan 2 sendok makan minyak tanah dan 30 gr detergen. Hasil campuran, didiamkan semalam. 4. Menyaring larutan hasil perendaman dengan kain halus. Dan menyemprotkan larutan hasil saringan ke tanaman. Mudah dan sederhana cara membuat pestisida alami dari ekstrak dau pepaya, selain itu biayanya murah sehingga akan menekan biaya obat-obatan untuk tanaman pertanian. Selain itu yang pasti bebas dari residu bahan kimia. Selamat Mencoba.(Galeriukm). Cara lain untuk membuat pestisida adalah sebagai berikut> Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1. Bawang putih, cabe rawit, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, kenikir : masing- masing 100 gram. 2. Gula pasir : 2 sendok makan. 3. Air suling destilasi / aqua destilata : 1 liter. 4. Dekomposer BSA (mikro organisme pengurai) : 2 cc. 5. Botol kaca steril besar : 2 buah Tahap-tahap pembuatan : 1. Cabe rawit, bawang putih, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, kenikir dan air destilasi diblender hingga bercampur rata. 2. Masukkan ke dalam botol yang telah disteril bebas kuman. 3. Masukkan gula dan decomposer BSA, tutup lalu biarkan satu minggu untuk proses fermentasi. 4. Buka dan saring dari ampas- ampas yang ada dan simpan di tempat yang tertutup Cara pemakaian/penggunaan cairan pestisida organik : 1. Campur 60 cc cairan pestisida/insektisida organik yang telah dibuat dengan 1 liter air biasa. Bisa juga buat takaran sendiri sesuai perbandingan tadi. 2. Semprot pada batang dan daun tanaman yang terserang hama dan ulat satu minggu sekali. Habiskan semua karena tidak bisa disimpan. Selamat mencoba semoga berhasil. Sumber: http://www.Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1. Bawang putih, cabe rawit, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, kenikir : masing- masing 100 gram. 2. Gula pasir : 2 sendok makan. 3. Air suling destilasi / aqua destilata : 1 liter. 4. Dekomposer BSA (mikro organisme pengurai) : 2 cc. 5. Botol kaca steril besar : 2 buah Tahap-tahap pembuatan : 1. Cabe rawit, bawang putih, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, kenikir dan air destilasi diblender hingga bercampur rata. 2. Masukkan ke dalam botol yang telah disteril bebas kuman. 3. Masukkan gula dan decomposer BSA, tutup lalu biarkan satu minggu untuk proses fermentasi. 4. Buka dan saring dari ampas- ampas yang ada dan simpan di tempat yang tertutup Cara pemakaian/penggunaan cairan pestisida organik : 1. Campur 60 cc cairan pestisida/insektisida organik yang telah dibuat dengan 1 liter air biasa. Bisa juga buat takaran sendiri sesuai perbandingan tadi. 2. Semprot pada batang dan daun tanaman yang terserang hama dan ulat satu minggu sekali. Habiskan semua karena tidak bisa disimpan. Selamat mencoba semoga berhasil.Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1. Bawang putih, cabe rawit, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, kenikir : masing- masing 100 gram. 2. Gula pasir : 2 sendok makan. 3. Air suling destilasi / aqua destilata : 1 liter. 4. Dekomposer BSA (mikro organisme pengurai) : 2 cc. 5. Botol kaca steril besar : 2 buah Tahap-tahap pembuatan : 1. Cabe rawit, bawang putih, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, kenikir dan air destilasi diblender hingga bercampur rata. 2. Masukkan ke dalam botol yang telah disteril bebas kuman. 3. Masukkan gula dan decomposer BSA, tutup lalu biarkan satu minggu untuk proses fermentasi. 4. Buka dan saring dari ampas- ampas yang ada dan simpan di tempat yang tertutup Cara pemakaian/penggunaan cairan pestisida organik : 1. Campur 60 cc cairan pestisida/insektisida organik yang telah dibuat dengan 1 liter air biasa. Bisa juga buat takaran sendiri sesuai perbandingan tadi. 2. Semprot pada batang dan daun tanaman yang terserang hama dan ulat satu minggu sekali. Habiskan semua karena tidak bisa disimpan. Selamat mencoba semoga berhasil.kebonkembang.com/panduan-dan- tip-rubrik-35/395-pemanfaatan-ekstrak-daun- pepaya-carica-papaya-sebagai-pestisida-alami-yang- ramah-lingkungan.html organisasi.org/cara- membuat-pestisi...

02/02/12

Budidaya Ikan Gurame Yang Benar

Ikan gurami sudah dibudidayakan sejak jaman dahulu. Karena rasanya yang begitu lezat, ikan gurami saat ini difavoritkan sebagai makanan utama di rumah makan dan masyarakat sekitar. Banyak pembudidaya ikan gurami dari dalam jawa maupun luar jawa terutama di Indonesia sendiri. Budidaya ikan gurami sangat digemari masyarakat karena harganya yang mahal dan budidaya yang tidak sulit. Banyak cara budidaya tentang perawatan ikan gurami yang tersaji di berbagai media. Blogiztic.net sendiri akan mengupas cara budidaya ikan gurami yang benar, ada beberpa sebagai berikut.
Induk yang akan dipilih Ciri -ciri ikan gurami yang akan dipilih memiliki kriterial sebagai berikut. - Perut membesar kearah belakang - Anus akan nampak putih kemerahan - Jika perut diraba akan terasa lembek Kolam yang harus dipersiapkan - Luas kolam 200 – 300 m persegi - Kedalaman kolam 1 – 1,5 m - Kedalaman air 0,7 – 1,0 m - Pada saluran pemasukan dipasang saringan kasa plastik - Pada pintu pengeluaran dibuat monik Proses pemijahan - Pemasukan induk yang sudah lolos seleksi - Perbandingan jantan dan betina adalah 1:3 - Setelah seminggu induk jantan akan membuat sarang - Pada hari ke-15 induk akan memijah Ciri -ciri sarang berisi telur - Sarang atau sosog sudah tertutup penuh oleh injuk - Sarang akan ditunggui oleh induk betina Penanganan benih Pengambilan telur, Alat : - Ember yang berisi air - Scope net Caranya 1. Sarang yang berisi telur diambil dan disimpan pada ember yang berisi air 2. Bila ada yang tercecer di kolam telur diambil dengan menggunakan scope net 3. Bawa telur ke ruang penetasan 4. Keluarkan telur dari sarangnya sedikit demi sedikit. Telur yang terlepas diambil dan masukkan kedalam ember berisi air yang telah disediakan sebelumnya 6. Bila masih ada telur yang menempel, kibas-kibaskan bagian injuk tersebut dengan hati-hati maka telur akan terlepas 7. Kemudian telur dicuci dengan air bersih sebanyak 3 kali 8. Pada saat mencuci tambahkan Mb atau Mg untuk mencegah terhadap serangan hama penyakit. 9. Telur yang sudah dicuci lalu dimasukan kedalam bak penetasan yang telah dipasang serasi dan hitter Pemeliharaan dan penetesan - Air dalam bak penetasan harus bersih Kedalaman air 20 cm - Telur yang tidak dibuahi atau tidak menetas harus dibuang - Telur akan menetas setelah 2 – 3 hari dengan suhu 27 -28 0C - Larva berada pada bak penetasan selama selama 10 hari - Setelah itu dipindahkan kedalam bak pendederan Siapkan bak pendederan Bak pendederan dengan ukuran 2,5 m x 4,5 m isi larva 2000 ekor, dan bak pendederan dipersiapkan 2 – 3 hari sebelum ditanami larva. Tahap-tahap persiapan bak pendederan - Bak dibersihan dan dikeringkan - Pemupukan dengan pupuk kandang - Pengapuran - Pemasukan air dan diendapkan selama 1 hari - Penanaman benih dapnia - Pemasangan aerator Penanaman benih - Penanaman benih benih dilakukan setelah persiapan selesai. - Selama di bak pendederan benih hanya diberi pakan alami berupa dapnia - Benih berada dalam bale pendederan sampai 14 hari dari penanaman Pemeliharaan benih Dalam pemeliharaan benih ada beberapa hal yang harus diperhatikan: - Mengamati keadaan air - Penambahan pupuk kandang Pemanena benih Pemanenan di lakukan pada pagi hari antara jam 07 – 09.00. Siapkan - Wadah berisi air dan beraerasi - Scope net Caranya : 1. Air dikeluarkan sedikit demi sedikit 2. Penangkapan benih dilakukan dengan scope net 3. Simpan benih hasil tangkapan pada wadah yang beraerasi, pads pemanenan air jangan sampai keruh dan saluran pengeluaran dipasang saringan, dan setelah selesai bak dibersihkan dan disiapkan untuk pendederan berikutnya. Sumber: www.blogistic.net

BERTERNAK KELINCI

Ox, kali ini gw mau kasih cara berternak kelinci. Mudah-mudahan bermanfaat. budidaya kelinci Yang perlu diperhatikan dalam usaha ternak kelinci adalah persiapan lokasi yang sesuai, pembuatan kandang kelinci , penyediaan bibit dan penyediaan pakan.
 1. Penyiapan Sarana dan Perlengkapan Fungsi kandang sebagai tempat berkembangbiak dengan suhu ideal 21° C, sirkulasi udara lancar, lama pencahayaan ideal 12 jam dan melindungi ternak dari predator. Menurut kegunaan, kandang kelinci dibedakan menjadi kandang induk. Untuk induk/kelinci dewasa atau induk dan anak- anaknya, kandang jantan, khusus untuk pejantan dengan ukuran lebih besar dan Kandang anak lepas sapih. Untuk menghindari perkawinan awal kelompok dilakukan pemisahan antara jantan dan betina. Kandang berukuran 200x70x70 cm tinggi alas 50 cm cukup untuk 12 ekor betina/10 ekor jantan. Kandang anak (kotak beranak) ukuran 50x30x45 cm. Menurut bentuknya kandang kelinci dibagi menjadi: 1.Kandang sistem postal, tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dalam ruangan dan cocok untuk kelinci muda. 2. Kandang sistem ranch ; dilengkapi dengan halaman pengumbaran. 3. Kandang battery; mirip sangkar berderet dimana satu sangkar untuk satu ekor dengan konstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery (bertingkat), Pyramidal Battery (susun piramid). Perlengkapan kandang yang diperlukan adalah tempat pakan dan minum yang tahan pecah dan mudah dibersihkan. 2. Pembibitan Untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut. Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan ternak yang cocok dipelihara. 1. Pemilihan bibit dan calon induk Bila peternakan bertujuan untuk daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak.
 2. Perawatan Bibit dan calon induk Perawatan bibit menentukan kualitas induk yang baik pula, oleh karena itu perawatan utama yang perlu perhatian adalah pemberian pakan yang cukup, pengaturan dan sanitasi kandang yang baik serta mencegah kandang dari gangguan luar.
3. Sistem Pemuliabiakan Untuk mendapat keturunan yang lebih baik dan mempertahankan sifat yang spesifik maka pembiakan dibedakan dalam 3 kategori yaitu: 1. In Breeding (silang dalam), untuk mempertahankan dan menonjolkan sifat spesifik misalnya bulu, proporsi daging. 2. Cross Breeding (silang luar), untuk mendapatkan keturunan lebih baik/menambah sifat-sifat unggul. 3. Pure Line Breeding (silang antara bibit murai), untuk mendapat bangsa/jenis baru yang diharapkan memiliki penampilan yang merupakan perpaduan 2 keunggulan bibit.
4. Reproduksi dan Perkawinan Kelinci betina segera dikawinkan ketika mencapai dewasa pada umur 5 bulan (betina dan jantan). Bila terlalu muda kesehatan terganggu dan mortalitas anak tinggi. Bila pejantan pertama kali mengawini, sebaiknya kawinkan dengan betina yang sudah pernah beranak. Waktu kawin pagi/sore hari di kandang pejantan dan biarkan hingga terjadi 2 kali perkawinan, setelah itu pejantan dipisahkan.
 5. Proses Kelahiran Setelah perkawinan kelinci akan mengalami kebuntingan selama 30-32 hari. Kebuntingan pada kelinci dapat dideteksi dengan meraba perut kelinci betina 12-14 hari setelah perkawinan, bila terasa ada bola-bola kecil berarti terjadi kebuntingan. Lima hari menjelang kelahiran induk dipindah ke kandang beranak untuk memberi kesempatan menyiapkan penghangat dengan cara merontokkan bulunya. Kelahiran kelinci yang sering terjadi malam hari dengan kondisi anak lemah, mata tertutup dan tidak berbulu. Jumlah anak yang dilahirkan bervariasi sekitar 6-10 ekor.

 Carabudidaya.Com

Cara Memelihara Lele

ara Beternak Ikan Lele, Budidaya ikan lele, Pemeliharaan lele Cara Beternak Ikan Lele Ikan Lele merupakan keluarga Catfish yang memiliki jenis yang sangat banyak, diantaranya Lele Dumbo, Lele Lokal, Lele Phyton, Lele Sangkuriang dan lain-lain. Pada tulisan terdahulu sudah dituliskan mengenai Budi Daya Ikan Guramih Pada Kolam Terpal, pada kesempatan ini akan dibahas BUDI DAYA IKAN LELE DUMBO pada Kolam terpal. Budi Daya Ikan Lele dumbo relatif lebih mudah dan sederhana jika dibandingkan dengan budi daya guramih. Pada dasarnya metode Budidaya ini adalah solusi untuk beberapa kondisi antara lain lahan yang sempit, modal yang tidak terlalu besar dan solusi untuk daerah yang minim air. Lele Dumbo merupakan ikan yang memiliki beberapa keistimewaan dan banyak diminati orang. Aneka masakan dari lele bisa diperoleh dengan mudah, rasa daging yang lezat dan gurih membuat bisnis budi daya lele menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan keuntungan. Selain itu Lele dumbo lebih mudah dipelihara dan cepat dalam pertumbuhannya. Dengan kondisi air yang “buruk” Lele dumbo bisa bertahan hidup dan berkembang dengan baik, dengan demikian solusi pemeliharaan lele dumbo dengan terpal menjadi alternatif yang perlu dicoba. Budidaya Ikan Lele dumbo dengan Kolam terpal mendatangkan peluang usaha yang cukup menjanjikan dan tidak memerlukan modal usaha yang besar. Analisis budidaya Lele Dumbo dapat dilakukan dalam berbagai model untuk konsumsi dan pembibitan. Analisis budidaya Lele Dumbo Model Budi Daya Lele Dumbo Peluang usaha Budidaya lele dumbo dengan kolam terpal dapat dilakukan dalam beberapa bentuk antara lain, tujuan pembibitan dan tujuan konsumsi. Budi daya Ikan Lele Dumbo sebagai bibit merupakan upaya memenuhi kebutuhan bibit yang terus meningkat seiring dengan permintaan Ikan Lele Dumbo Konsumsi. Budidaya Ikan Lele Dumbo Konsumsi merupakan upaya memelihara Ikan Lele Dumbo sampai ukuran dan bobot tertentu. Biasanya dari berat 1 ons per ekor ikan lele dumbo sampai 1 kg per ekor. Ukuran Lele Dumbo 1 Kg / ekor ke atas biasanya digunakan pada kolam pemancingan yang berisi Lele dumbo. Salah satu contoh kolam lele dengan terpal Budidaya Lele Dumbo Untuk Pembibitan Peluang Usaha Budidaya Lele dumbo Untuk tujuan pembibitan bisa dilakukan antara lain: Pemijahan dan penetasan telur lele dumbo, setelah menetas bisa dijual kepada peternak lain untuk dibesarkan atau dipelihara lagi sampai besar. Karena bibit lele dumbo baru menetas sudah bisa dijual, sehingga merupakan peluang usaha bagi yang memilih menekuni bidang ini. Jika lahan yang tersedia sempit solusi ini bisa menjadi alternatif. Modal untuk usaha ini hanya tempat dan indukan lele dumbo.
 Bibit Lele dumbo baru menetas biasanya dihargai berdasarkan perkiraan jumlah anakan Lele Dumbo, yang ditentukan berdasarkan bobot induk dan jumlah induk Lele Dumbo. Penyediaan Bibit Ukuran 2-3 cm, dalam kurun waktu satu bulan setelah menetas bibit lele dumbo telah mencapai ukuran 2-3 cm dan siap untuk dijual ke pasaran. Pembesaran benih lele dari menetas hingga ukuran ini idealnya ditempatkan pada kolam lumpur atau sawah, sehingga memerlukan lahan yang relatif luas. Meski di kolam terpal tetap bisa dilakukan tetapi tidak bisa dalam jumlah yang besar, meski demikian peluang usaha tetap terbuka. Pembesaran Lele Dumbo pada bak atau kolam terpal pada ukuran ini memerlukan makanan tambahan berupa pelet buatan pabrik. Penyediaan Bibit ukuran 5-7 cm, pada ukuran 5-7 cm benih lele dumbo siap dijual sebagai bibit yang mendatangkan peluang usaha. Biasanya ukuran ini dipelihara oleh peternak sampai ukuran layak konsumsi. Pemeliharaan Lele Dumbo Untuk Konsumsi Lele dumbo untuk keperluan konsumsi biasanya dipelihara mulai dari ukuran 5-7 cm atau lebih besar, untuk hasil panen cepat bisa dilakukan dalam waktu 2 bulan dengan pemberian makanan yang ekstra dan optimal. Peluang usaha budidaya lele dumbo untuk konsumsi ini relatif lebih mudah karena ukuran lele yang besar lebih tahan terhadap penyakit, dan tingkat hidup lebih tinggi. Untuk mendapatkan ukuran lele dumbo yang lebih besar memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan. Persiapan Pembuatan Kolam Terpal Persiapan untuk budi daya lele dumbo dengan kolam terpal meliputi persiapan lahan kolam , persiapan material terpal ,dan persiapan perangkat pendukung. Lahan yang perlu disediakan disesuaikan dengan keadaan dan jumlah lele yang akan dipelihara.
Untuk Pembesaran sampai tingkat konsumsi bisa digunakan lahan dengan ukuran 2 x 1x 0.6 meter, yang bisa diisi dengan 100 ekor lele dumbo ukuran 5-7 cm. Model pembuatan kolam bisa dengan menggali tanah kemudian diberi terpal atau dengan membuat rangka dari kayu yang kemudian diberi terpal. Cara pertama lebih membuat terpal tahan lebih lama.

Pemeliharaan Lele Dumbo Pertama kali kolam terpal diisi dengan air yang tidak terlalu dalam terlebh dahulu, untuk lele dumbo ukuran 5-7 cm bisa diisi air 40 cm terlebih dahulu, agar ikan tidak terlalu capek naik dan turun dasar kolam untuk mengambil oksigen, seiring dengan bertambahnya usia dan ukuran kedalaman air ditambah. Perlu disediakan pula rumpon atau semacam perlindungan untuk lele. Karena lele merupakan ikan yang senang bersembunyi di daerah yang tertutup.

Pemberian pakan dilakukan dengan pemberian pelet sehari dua kali, lebih bagus lagi lebih dari dua kali tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit. Jika di lingkungan tersedia pakan alami seperti Bekicot, kerang, keong emas, rayap dan lain- lain, bisa diberikan makanan alami tersebut. Makanan alami selain bisa menghemat pengeluaran juga memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga pertumbuhan lele dumbo lebih cepat. Selain itu ada beberapa teknologi yang bisa dipakai untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele dan ikan lainnya.

Meski Lele dumbo tahan terhadap kondisi air yang buruk ada baiknya perlu diganti air sekitar 10-30% setiap minggu, agar kolam tidak terlalu kotor dan berbau. Penyakit pada ikan lele mudah menyerang pada air yang kotor. Pada usia satu bulan atau jika diperlukan perlu dilakukan seleksi dan pemisahan lele yang memiliki ukuran yang berbeda. Biasanya lele mengalami pertumbuhan yang tidak sama, sehingga jika tidak dipisahkan lele dengan ukuran kecil akan kalah bersaing dalam berebut makanan. Selain itu pisahkan jika ada ikan yang terindikasi terserang penyakit agar tidak menular.

 Sumber: health-adolescent.Blogspot.Com